Network

Aal is well

kalimat sakti di atas saya petik dari dialog-dialog dalam film Three Idiots. Filmnya sudah empat kali saya nonton, full. Jadi total sudah 12 jam dalam hidup saya gunakan untuk menyaksikan Aamir Kham, Sharman Joshi, Boman Irani, dan Kareena Kapoor...

selanjutnya ..

Random fortunes, do you believe?

Mari kita menengok seorang filsuf kontemporer asal Prancis, Alain du Botton. Dalam novelnya Tentang Cinta (On Love), ia menerapkan teori probabilitas dalam percintaan tokoh utama (yang tidak disebutkan namanya) dengan Chloe.

selanjutnya ..

moody

Cuaca hari ini sangat bersahabat, sudah jam 12 siang tapi suasanya masih seperti jam 8 pagi. Mendung tergantung di tiap sudut langit. Ini mengingatkanku pada Idul Fitri yang pernah tiba di akhir-akhir tahun, di mana ketika aku kembali ke Makassar, aku disambut tanah yang basah dan langit yang kelabu...

selanjutnya ..

Call me Donald Duck

Kurang lebih tiga malam lalu, aku iseng-iseng membuka kardus bekas dispenser berisi barang-barang lama yang sayang sekali jika dibuang (ya, untuk urusan yang satu ini, aku mewarisi sifat ibuku, suka menyimpan benda-benda lama (^_^)). Lama tidak dibongkar, ternyata aku menemukan banyak benda yang kini punya nilai tertentu, mungkin salah satunya karena telah ditinggalkan oleh waktu. Dua di antaranya selembar foto pra ospek, di mana aku berhadapan dengan Dwi, saling membersihkan wajah kami yang belepotan cat tembok dengan tinner (bayangkan!!! tinner??? pembersih wajah manapun lewatttt!!!)

Satunya lagi, sebuah komik Disney yang tebal tidak utuh (beberapa bagian cerita terpotong, kertasnya berwarna cokelat kusam), namun masih bisa dinikmati kisahnya. Aku jadi teringat sewaktu SD dulu, sering merengek pada ibu minta dibelikan majalah "Donald Bebek" yang saat itu harga 2.500 termasuk ukuran mahal buat ibu.

Pertama kali membaca kisah-kisah tokoh transnasional produksi Walt Disney saat itu, aku langsung mengidentikkan diriku dengan karakter Donald Bebek. Pemalas, seniman tidak karuan, suka berleha-leha, bersantai-santai, susah bangun pagi, dan gampang marah. Membaca kisahnya lagi di tiga malam belakangan ini, mendorongku mengidentikkan ulang karakter-karakter itu, dan hasilnya memang masih sama, hehehehe... Maaf ya kalau ada yang mengeluh dengan sifat-sifatku..

selanjutnya ..

The Apartment

Seminggu tidak posting rasanya mau gila (aih, lebay). So lets just see what I've been through this past week, mmm...nonton Sang Pemimpin yang proses mewujudkan keinginan untuk itu saya harus mengalami 'rusuh adrenalin', beberapa malam dengan lagu-lagu 90 an (ih sampai merinding), dan nonton film gila berjudul L'Appartement.

Kami (saya, Ka Harwan, dan Ka Fajar) ditraktir Ka Riza menyaksikan Sang Pemimpi, namun karena sesuatu hal, formasi berubah, jadi Ka Riza, Ka Harwan, Ahmad Syarif a.k.a Aco, dan Saya. Mengapa 'rusuh adrenalin?' Singkatnya, ketika kita menginginkan sesuatu dengan segera, akan tetapi lingkungan tidak menghendaki hal itu terjadi dengan segera, maka saat itulah terjadi rusuh adrenalin, yang bisa memantik energi untuk melakukan hal-hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Itulah yang terjadi, tapi untung saja 'rush' itu tidak berdampak buruk, hanya keringatan hampir melumuri sekujur tubuh. Akhirnya saya bisa juga nonton, tertawa sekaligus sedih. Overall, I love you Bang Zaitun!!! Hehehe...

Pulang ke rumah, saya memutar lagu-lagu di laptop Ka Fajar yang saya pinjam untuk kepentingan input data. Ya, zona 90-an terjadi di kamar kos, menemani insomnia saya yang mulai datang lagi. Mungkin anda pernah sangat familiar dengan Protonema, Memes, Sahara, Andy Liany, atau Java Jive? Hufh, mendengar lagu ternyata juga bisa menguras tenaga karena berusahan mengingat tahun berapa lagu ini dirilis, video klipnya seperti apa, nontonnya di mana, suasananya bagaimana? Ckckck...

Tapi yang paling bisa menyita perhatian sekaligus mengoceh sepanjang malam, adalah sebuah film produksi 1996, film Prancis yang dibintangi Monica Bellucci, L'Appartement. Silakan nonton sendiri filmnya, silakan marah-marah pada tokoh Alice yang licik, tidak punya perasaan, dan segala sesuatu berjalan seperti hendaknya, serta silakan salahkan 'nasib' yang mempermainkan Max dan Lisa, dua karakter yang kita harapkan menyatu di bagian akhir cerita. What an emotional rush!!!

selanjutnya ..

sebelum memulai

Masih dari kardus bekas tempat dispenser yang aku ceritakan kemarin-kemarin, aku juga menemukan plastik bening berisi amplop warna-warni beagam ukuran. Di dalam keenam amplop tersebut berisi kartu ucapan selamat Hari Natal. Ya, aku ingat, kartu-kartu itu semestinya aku berikan di perayaan Natal tiga tahun lalu, kepada Ka Vic, Ka Sandy, Mamar, Pamela, Nasha, dan Jenny.

Aku sudah lupa kenapa kartu-kartu itu tidak pernah terkirim. Teman-temanku itu kini sudah berpencar jauh dariku. Mungkin, karena saat ini versi digitalnya sudah tersedia dan aku bisa mengirimnya kapan saja. Atau mungkin karena ada yang bilang niat memberi ucapan itu jauh lebih bermakna dari bentuk visualnya. Kartu itu kembali kusimpan di tempat aku menemukannya.

Semoga mengucapkan selamat di blog ini tidak mengurangi kebahagianku untuk teman-teman yang sedang merayakan Natal.

selanjutnya ..